Arsip Tag: bencana alam

NgabubuRide for Charity (Solidarity for Purworejo)


Kondisi cuaca yang tidak menentu akhir-akhir ini membawa banyak pengaruh pada kehidupan manusia. Intensitas hujan yang cukup lebat hampir seminggu ini mengakibatkan terjadinya bencana alam. Puncaknya adalah terjadinya bencana alam tanah longsor di Kabupaten Purworejo yang mengakibatkan puluhan korban meninggal dunia tertimbun longsoran bukit yang menerjang pemukiman penduduk.

ANTARA FOTO/Anis Efizudin/aww/16.
ANTARA FOTO/Anis Efizudin/aww/16.

Berkenaan dengan kejadian tersebut, sejumlah komunitas pecinta sepeda motor kastem Yogyakarta tergerak hatinya untuk mengadakan acara donasi amal yang akan disumbangkan kepada pihak yang berwenang di Purworejo dengan mengadakan acara bertema Charity dan Solidarity kepada para korban bencana alam tanah longsor tersebut. Acara tersebut diberi nama NGABUBURIDE FOR CHARITY (Solidarity for Purworejo)

Berikut ini release agenda dan rundown kegiatan tersebut : Lanjutkan membaca NgabubuRide for Charity (Solidarity for Purworejo)

27 Mei… 9 Tahun yang lalu


Catatan ini sekedar pengingat untuk diri saya pribadi dan pembaca blog ini terkait peristiwa yang saya alami 9 (sembilan) tahun yang lalu.

untitled9

Hari itu.. Sabtu pagi tanggal 27 Mei 2006, semua berjalan seperti hari biasa. Ayam berkokok, burung-burung berkicau menyambut pagi dan sang mentari. Masih jelas dalam ingatan, saat itu saya sedang libur cuti bersama sejak hari Jum’at. Karena sedang libur maka penyakit malas juga mengikuti. Tak terasa waktu menunjukkan jam 05.45 WIB, dari luar kamar Ibu memberi tahu kalau air panas sudah siap untuk memandikan junior saya yang masih berusia 6 bulan. Sambil malas saya bilang, sebentar lagi bu… kembali saya merebahkan diri disamping kiri junior, sementara isteri saya ada disebelah kanan junior saya. 10 (sepuluh) menit berselang, tiba-tiba…… Lanjutkan membaca 27 Mei… 9 Tahun yang lalu

27 Mei… delapan tahun yang lalu


Catatan ini sekedar pengingat untuk diri saya pribadi dan pembaca blog ini terkait peristiwa yang saya alami 8 (delapan) tahun yang lalu.

Hari itu.. Sabtu pagi tanggal 27 Mei 2006, semua berjalan seperti hari biasa. Ayam berkokok, burung-burung berkicau menyambut pagi dan sang mentari. Masih jelas dalam ingatan, saat itu saya sedang libur cuti bersama sejak hari Jum’at. Karena sedang libur maka penyakit malas juga mengikuti. Tak terasa waktu menunjukkan jam 05.45 WIB, dari luar kamar Ibu memberi tahu kalau air panas sudah siap untuk memandikan junior saya yang masih berusia 6 bulan. Sambil malas saya bilang, sebentar lagi bu… kembali saya merebahkan diri disamping kiri junior, sementara isteri saya ada disebelah kanan junior saya. 10 (sepuluh) menit berselang, tiba-tiba……

Diawali listrik padam, sepersekian detik sesudahnya lantai dan rumah berayun keras, badan ini serasa terayun jatuh kebawah padahal semua masih dalam posisi rebah dikasur. Belum sempat saya berpikir apa yang baru saja terjadi… tiba-tiba tanah, lantai dan seisi rumah bergetar hebat. Secara reflek saya langsung membalik badan dan tengkurap melindungi anak dan istri saya, getaran keras berlangsung hampir satu menit lamanya. Saat itu saya merasakan kepasrahan dan keikhlasan yang sesungguhnya, mata terpejam dan bibir ini tak henti-hentinya menyebut nama Allah, seandainya saat itu saya harus mati biarlah saya mati asal anak dan istri saya bisa selamat dan terlindungi.

Yang ada di pikiran saya saat itu adalah, jika atap rumah saya roboh yang akan menimpa saya adalah balok-balok kayu, tembok dan pecahan genting. Dan saya sudah membayangkan dan bersiap menerima runtuhan tersebut dipunggung saya. Debu-debu berterbangan, seisi rumah serasa runtuh, semua barang berjatuhan pecah menimbulkan efek suara yang tidak bisa digambarkan. Dan pada akhirnya suara dan goncangan tersebut berhenti, segera saya menarik bangun isteri dan menyuruhnya menggendong anak kami dan segera keluar kamar, dan ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Begitu keluar kamar terlihat semua almari roboh dan langit tempak terlihat karena atap runtuh, pintu depan tertutup reruntuhan dan puing-puing rumah. Segera lari lewat pintu belakang sambil melompati balok-balok kayu dan reruntuhan atap dan akhirnya kemi bertiga bisa keluar rumah dengan selamat tanpa sedikit luka. Hanya syukur alhamdulillah yang bisa terucap… bahwa kami sekeluarga tidak ada yang menjadi korban jiwa dalam kejadian ini.

4931_1180161703428_6736289_n

Bagian depan rumah yang roboh…

4931_1180161743429_4541475_n

Bagian belakang rumah yang hancur..

Hari itu, hampir 5000 jiwa menjadi korban gempa bumi belum lagi berapa korban yang luka berat dan ringan dalam peristiwa tersebut. Sangat panjang jika diceritakan, hari-hari dimana kami hidup dari bantuan orang lain dan pengalaman tinggal berbulan-bulan ditenda dibawah terik mentari dan juga hujan. Belum lagi banyaknya permasalahan sosial yang bermunculan saat masa rekonstruksi dan sebagainya.

Pelajaran yang bisa kita ambil dari peristiwa tersebut adalah :

  1. Bencana bisa terjadi kapan saja dan dimana saja
  2. Bencana tidak menunggu kesiapan kita untuk menghadapinya

Kita harus sadar bahwa kita tinggal di daerah dan wilayah yang rawan bencana, Indonesia memiliki potensi bencana yang sangat tinggi. Untuk itu sebagai warga masyarakat kita harus selalu waspada dan mengikuti petunjuk dan arahan dari pemerintah yang menangani kebencanaan lewat BNPB di pusat dan BPBD di daerah (Badan Penanggulangan Bencana Daerah). Informasi yang berkaitan dengan kebencanaan di daerah kita tersedia disana. Dan yang terpenting dari itu semua adalah bahwa kita adalah makhluk ciptaan Allah Yang Maha Kuasa, dan sudah kewajiban kita untuk selalu mendekatkan diri dan berserah diri kepada Nya agar diberikan keselamatan dan kesehatan dalam menjalani hidup di dunia ini. Amin!

Semoga bermanfaat dan menambah wawasan kita bersama…