Ini adalah artikel pertama saya di tahun 2013, setelah pada akhir tahun 2012 lalu saya lewati dengan kekosongan ide karena semua perhatian dan pikiran saya tersita pada urusan pekerjaan.
@@@@@@@@@@@@@@@
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sebagai makhluk sosial tidak akan pernah lepas dari yang namanya hubungan kebersamaan dengan manusia yang lain. Apapun bentuknya dan apapun medianya kita sebagai individu pasti membutuhkan individu yang lain. Dari berbagai bentuk hubungan kebersamaan tersebut saya mengambil satu yaitu “ paguyuban”.
Paguyuban – dalam bahasa Inggris disebut Community (dalam bahasa Jermannya disebut Gemeinschaft) merupakan bentuk kehidupan bersama, di mana para anggotanya diikat oleh hubungan batin yang murni dan bersifat alamiah serta kekal. Dasar hubungan tersebut adalah rasa cinta dan rasa persatuan batin yang memang telah dikodratkan. Atau lebih mudahnya menurut kamus bahasa indonesia berarti perkumpulan yg bersifat kekeluargaan, didirikan orang-orang yg sepaham (sedarah) untuk membina persatuan (kerukunan) di antara para anggotanya.
Dari definisi diatas terlihat bahwa yang menjadi dasar sebuah paguyuban adalah adanya sifat kekeluargaan, kesepahaman dan kerukunan/persatuan. Ketiga sifat tersebut mutlak dimiliki oleh setiap anggota paguyuban demi kelangsungan hubungan atau ikatan tersebut. Hal ini sangat penting untuk disadari dan dimengerti, bahwa setiap anggota/individu mempunyai tugas, kewajiban dan tanggung jawab yang sama didalam sebuah paguyuban.
—————— II —————-
Tidak usah panjang lebar saya menjabarkan tentang paguyuban, langsung ke inti cerita. Selama ini saya tergabung dalam sebuah komunitas (tapi saya lebih senang menyebutnya paguyuban) yang sangat hebat, betapa indahnya saat benih-benih paguyuban itu tumbuh dengan siraman semangat kekeluargaan, kebersamaan dan toleransi. Jauh dari kata egoisme, kebanggaan pribadi, idealisme sempit dan kesombongan. Benar-benar saat yang istimewa jika diingat dan dikenang.
Seiring berjalannya waktu, toleransi itu mulai memudar. Kekeluargaan mulai terusik dan kebersamaan mulai terkoyak. Diawali dengan mulai kurangnya perhatian dari para sesepuh paguyuban, banyaknya anggota baru yang kurang memahami arti penting toleransi, dan diakhiri hilangnya rasa saling hormat-menghormati dan kekeluargaan yang menjadi semangat paguyuban ini.
Apakah ini semua tujuan paguyuban ini dibentuk? Apakah kita rela semua ini berakhir dengan perpecahan?
Mari kita bertanya pada diri kita masing-masing, apakah kita sudah berperan dalam menjaga kebersamaan dan kekeluargaan paguyuban ini? Ataukah hanya sebagai penonton dan penggembira saja?
Masih ada waktu untuk memperbaiki, fungsikan lagi komponen-komponen didalamnya, berikan rambu-rambu yang jelas dan tegas agar tercipta keteraturan dan ketertiban. Paguyuban bukanlah hutan rimba dimana semua bebas melakukan apa yang dia mau. Paguyuban adalah sebuah wahana dimana manusia berinteraksi, saling berbagi dan bersosialisasi secara manusiawi dan beradab.
Semoga kedepannya paguyuban ini akan jauh lebih baik lagi….
Bantul, 14 Januari 2013 (sebagai bahan renungan bersama)